Niat Tawaf Malah Mengelilingi Orang Miskin

Pada saat musim haji tiba, berangkatlah seorang laki-laki untuk menunaikan ibadah haji. Katakan saja namanya Ahmad.

Dalam perjalanannya ke kota Makkah, Ahmad bertemu dengan seorang laki-laki miskin. Kemudian laki-laki miskin itu bertanya kepada Ahmad, ”Bapak hendak pergi kemana?” Ahmad menjawab, ”Saya akan pergi ke Makkah untuk menunaikan ibadah haji.” ”Berapakah bekal yang engkau bawa?” tanya laki-laki miskin itu lagi. ”Saya membawa bekal uang sebanyak 200 dirham,” jawab Ahmad.

Dengan sangat terpaksa laki-laki miskin ini berkata lagi, ”Berikanlah uangmu itu kepadaku, karena aku ini adalah seorang laki-laki miskin yang menanggung biaya kehidupan satu keluarga besar. Kelilingilah aku tujuh kali, karena itulah sebagai ganti hajimu.”

Akhirnya Ahmad yang semula hendak pergi menunaikan ibadah haji ke Makkah, gagal pergi ke sana. Karena ia menyadari bahwa menolong orang miskin itu lebih berharga dari pada melaksanakan ibadah haji. Sehingga Ahmad memberikan uangnya kepada laki-laki miskin tadi dan kembali pulang ke rumahnya.

Dewasa ini, banyak sekali orang yang lebih mementingkan diri mereka sendiri dari pada memperhatikan orang-orang yang tidak punya yang ada di sekeliling mereka. Sehingga mereka tetap akan menunaikan ibadah haji tanpa perlu memandang kemiskinan para tetangganya.